Success Story : Ahmad Fuadi

Gambar

Ahmad Fuadi. Yah, siapa yang tidak mengenal seorang Ahmad Fuadi? Belakangan sosok ini menjadi kian terkenal karena kemampuan Beliau merangkai kata berdasarkan pengalaman pribadinya. Terlahir sebagai seorang anak lelaki tertua yang menjadi tauladan bagi adik-adiknya. Lahir di Bayur, Maninjau, Sumatera Barat pada 40 tahun yang lalu. Tepatnya pada tanggal 30 Desember 1972. Tidak banyak memang yang istimewa dari perjalanan masa kecil seorang Ahmad Fuadi.

Pendidikan masa kecilnya yang lebih menguatkan kepada pendidikan agama membawanya kepada pilihan untuk melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Modern Gontor. Awalnya, hal ini merupakan keinginan sang ibu yang ingin melihat anak lelakinya menjadi seorang yang agamis layaknya Buya Hamka. Sempat memang adanya penolakan dari Ahmad Fuadi sendiri, tetapi Beliau memiliki keinginan kuat untuk menyenangkan sang ibu. Berbekal dari informasi sang paman yang minim, ia dan sang ayah memutuskan berangkat ke Ponorogo untuk mengikuti tes masuk. Alhamdulillah, kegigihannya membuahkan hasil. Dia diterima di Pondok Modern tersebut.

Menjalani hari-harinya sebagai seorang santri, Ahmad Fuadi mendapatkan sahabat yang menjadi pelipur lara dan tempatnya berbagi rasa. Mereka yang dikenal sebagai Sahibul Menara. Yah, julukan yang berarti pemilik menara. Mereka selalu kompak dalam hal apapun. Solidaritas yang tinggi menguatkan jalinan persahabatan mereka. Hingga salah satu dari mereka harus pulang dan tidak melanjutkan pendidikannya. Hal ini menjadi pukulan berat bagi seorang Ahmad Fuadi. Melepaskan seorang sahabat tercinta demi mengurus sang nenek.

Setelah menamatkan pendidikan di Pondok Modern Gontor, Ahmad Fuadi mencoba mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Dengan usaha yang keras, akhirnya dia lolos masuk di Universitas Padjajaran. Masa kuliahnya dia hadapi dengan perjuangan keras. Menjalani kuliah dan bekerja cukup menyita waktu Ahmad Fuadi. Dia juga memilih menjadi seorang jurnalis. Hal tersebut yang menjadi bekalnya untuk melanjutkan kehidupan. Dan dalam salah satu kesempatan, dia mencoba mendaftar dalam salah satu pertukaran pelajar ke Kanada. Dia menerimanya dan menetap disana selama beberapa bulan.

Hingga lulus, Ahmad Fuadi mendapatkan banyak tawaran beasiswa. Dia sempat bekerja sebagai jurnalis di VOA Amerika. Keahliannya dalam mewawancarai patut diacungi jempol. Kemampuan luar biasanya yang membuat dia menjadi orang yang cerdas dan berkompeten dalam bidang tersebut. Pada tahun 2009. novelnya yang pertama di rilis dengan judul “Negeri 5 Menara” sebagai cerminan dari kehidupannya.

Negeri 5 Menara oleh Ahmad Fuadi

Buku ini sebagai pemenuhan janjinya yang dulu pernah terucap. Ahmad Fuadi ingin sekali membagi kisahnya selama menjadi santri untuk dapat dibaca oleh banyak orang. Sehingga hal tersebut tidak sia-sia dan mampu diambil hikmahnya oleh banyak orang. Pada tahun 2012, novel tersebut diangkat ke dalam film layar lebar dengan judul yang sama. Dengan beberapa pemain yang juga memiliki latar belakang sebagai santri tentunya. Film dan novel tersebut mendapat apresiasi yang sangat tinggi dari para penikmat film dan novel. Menjadi salah satu novel best seller dan mendapat beberapa penghargaan atas jerih payah seorang Ahmad Fuadi. Dengan hati buku tersebut ditelurkan agar menjadi pembelajaran yang berguna bagi para penikmatnya. Petuah arab yang sangat terkenal dan menjadi tagline dalam novel tersebut adalah Man Jadda Wajadda. Siapa yang bersungguh-sungguh maka akan mendapatkannya. Mantra yang menuntun Ahmad Fuadi untuk meraih mimpinya ke depan. Tagline ini kini menjadi sangat terkenal dan populer di kalangan masyarakat Indonesia. Tidak hanya kalangan tua-tua, tetapi para anak muda sangat mengagumi satu petuah ini kini.

Buku kedua dari triloginya pun dimunculkan pada tahun yang sama. Dengan judul “Ranah 3 Warna”, sebagai lanjutan dari perjalanan hidupnya.
Ranah 3 Warna

Bercerita tentang kelanjutan hidup seorang Ahmad Fuadi alias Alif yang telah menamatkan pendidikannya di Pondok Modern Madani dan mencoba mendaftar di ITB sesuai mimpi masa kecilnya tetapi gagal dan saat mengikuti UMPTN, dia mendapatkan pengumuman bahwa di lulus di Universitas Padjajaran Bandung. Dari sinilah perjalanan panjangnya dimulai. Hingga menemukan pendamping hidup yang kini menjadi istrinya. Dalam novel ini, Ahmad Fuadi memperkenalkan kata penyemangatnya yang berasal dari pepatah arab, yaitu man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Petuah ini yang dipegangnya hingga kini dan menuntunnya menjadi pribadi yang kuat.

Pada tahun 2012, buku ketiganya dengan judul “Berjalan Menembus Batas” diterbitkan. Buku yang bercerita tentang bagaimana perjuangan hidup dari para penulis dengan segala keterbatasan yang ada. Mulai dari keterbatasan fisik hingga keterbatasan ekonomi. Novel ini merupakan kompilasi dari beberapa penulis. Ahmad Fuadi menjadi penulis utama dari buku tersebut. Dari buku ini, kita menarik pelajaran tentang bagaimana susahnya meraih kesuksesan dengan bekal keterbatasan. Hikmah dari buku ini adalah bagaimana kita menghadapi kesulitan dan menjadikan itu sebagai cambuk guna mendapatkan kesuksesan. Tidak tanggung-tanggung, ada beberapa kisah yang mengajarkan kita menjadi pribadi kuat yang berlandaskan pada agama yang kuat. Bagaimana kita membangun karakter dan menemukan motto hidup. Bahkan visi dan misi kita kedepannya. Sebuah novel inspiratif yang mampu menggetarkan jiwa para pembacanya. Menjadi penyejuk bagi jiwa-jiwa yang menginginkan pencerahan.
Berjalan Menembus Batas

Pendidikan:
KMI Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo (1988-1992) [5] Alumni Gontor 1992
Program Pendidikan Internasional, Canada World Youth, Montreal, Kanada (1995-1996)
National University of Singapore, Singapura studi satu semester (1997)
Universitas Padjadjaran, Indonesia, BA dalam Hubungan Internasional, (September 1997)
The George Washington University, Washington DC, MA dalam Media and Public Affairs (Mei 2001)
Royal Holloway, Universitas London, Inggris, MA dalam Media Arts, (September 2005)

Penghargaan dan Beasiswa:
SIF-ASEAN Visiting Student Fellowship, National University of Singapore, 1997
Indonesian Cultural Foundation Inc Award, 2000-2001
Columbian College of Arts and Sciences Award, The George Washington University, 2000-2001
The Ford Foundation Award 1999-2000
CASE Media Fellowship, University of Maryland, College Park, 2002
Beasiswa Fulbright, Program Pascasarjana, The George Washington University, 1999-2001
Beasiswa British Chevening, Program Pascasarjana, University of London, London 2004-2005
Longlist Khatulistiwa Literary Award 2010
Penulis dan Fiksi Terfavorit, Anugerah Pembaca Indonesia 2010
Penulis/Buku Fiksi Terbaik, Perpustakaan Nasional Indonesia 2011
Liputan6 Award, SCTV untuk Kategori Pendidikan dan Motivasi 2011
Resident Writer, Lake Cuomo – Italy, Rockefeller Foundation 2012

Pengalaman Profesional:
Penulis dan Kolumnis bebas, 1992-1998
Menulis ratusan artikel mengenai peristiwa terkini untuk media massa di Indonesia
Wartawan dari CJSR 3 TV Communautaire, St-Raymond, Quebec, Kanada, 1995
Asisten Penelitian, School of Media and Public Affairs, George Washington University, Washington DC, 2000-2001
Asisten Penelitian, Center for Media and Public Affairs, Washington DC, 2000-2001
Bekerja di Pemanasan Global dan Budaya Pop Project.
Wartawan, Majalah TEMPO[6], Jakarta, Indonesia, Augustus 1998-2002.
Mengulas dan menulis berita aktual mulai dari politik, ekonomi sampai berita seni.
Internasional koresponden, Majalah TEMPO[7], Washington DC, Agustus 1999-September 2002
Mengulas peristiwa dan menulis cerita dari titik-titik utama di AS seperti Pentagon, Gedung Putih, dan Capitol Hill. Di antara highlight dari laporannya adalah: penulisan cerita dan tindak lanjutnya peristiwa 11 September dari Washington DC dan mewawancarai tokoh-tokoh seperti Colin Powell dan Paul Wolfowitz
Produser TV dan Editor, Voice of America, Washington DC, Mei 2001-Oktober 2002
Wartawan, Voice of America, Jakarta, November 2002 – November 2005
Spesialis Publikasi dan Informasi, USAID-LGSP (Local Governance Support Program)Desember 2005-Agustus 2007
Direktur Komunikasi, The Nature Conservancy (TNC)[8] Agustus 2007-2009
The Nature Conservancy (TNC) sebagai salah satu organisasi konservasi terbesar di dunia, Bertanggung jawab untuk mengembangkan dan menerapkan strategi komunikasi untuk meningkatkan dan mempertahankan kesadaran masyarakat dan dukungan TNC. Publikasi dan mengkoordinasikan semua usaha pemasaran TNC di Indonesia. Managed hubungan media, media monitoring, identitas visual dan branding, internal / eksternal publikasi, dan manajemen risiko. Mewakili TNC di arena nasional dan internasional. Bekerja sama dengan berbagai staf TNC di lebih dari 30 negara di dunia.

Pengalaman Belajar:
Trainer, Humas, Publikasi, menulis, fotografi. USAID-LGSP (2006-2007). Dihadiri oleh staf lembaga bantuan dari 8 propinsi di Indonesia.
Trainer, Workshop produksi TV, International Broadcasting Bureau-VOA, September 2005. Dihadiri oleh jurnalis TV / produsen dari 14 stasiun TV di Indonesia.
Certified trainer DDI untuk pengembangan organisasi
Speaker / fasilitator di berbagai negara seperti Kanada, Malaysia dan Amerika Serikat.
Mengajar anak sekolah di berbagai tempat seperti: Virginia, AS, PM Gontor, Bandung, dll

Keterampilan Bahasa:
Mempelajari 4 bahasa: bahasa Indonesia Inggris, Perancis dan bahasa Arab.

Nilai yang dapat saya pelajari dari pengalaman hidup seorang Ahmad Fuadi adalah bagaimana dia mampu menyemangati dirinya sendiri untuk lebih giat dalam menggapai cita-citanya. Menjadi inspirasi banyak orang dengan perjalanan hidupnya yang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Mengajarkan saya bagaimana membangun karakter diri pribadi dan menularkan semangatnya yang berapi-api untuk meraih kesuksesan. Menginspirasi banyak orang untuk menjadi entrepreuner sosial untuk memajukan pendidikan Indonesia melalui yayasan Negeri 5 Menara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: