Deskripsi Diri

Gambar

Nama : Eka Mardiana

Tempat / Tanggal Lahir : Pekanbaru, 26 Maret 1992

Alamat : Jalan Sukoharjo No. 68 Pekanbaru, Riau

Status : Mahasiswi

Dilahirkan oleh seorang ibu yang bernama Mujiarti Ningsih, tepat 21 tahun yang lalu saya dilahirkan ke bumi Allah tercinta. Dengan seorang ayah yang bernama Amin Qodaruzzaman. Pasangan berbahagia ini menyambut saya dengan tangan terbuka. Di tengah kehangatan keluarga, saya dibesarkan dengan penuh kasih sayang mereka. Didikan yang cukup keras saya terima dari almarhum seorang kakek yang bernama Bedjan. Dua tahun setelah kelahiran saya, bunda tercinta melahirkan seorang bayi laki-laki yang kini menjadi adik tersayang saya, Dimas Dwi Prasetya. Dengan karakter yang sama-sama keras, kami menghabiskan masa kanak-kanak dengan berbagai pertengkaran-pertengkaran kecil. Sejak umur saya 1 hari hingga usia beranjak 9 tahun, saya dan bunda serta adik lelaki saya tinggal bersama kakek dan nenek di kota Pekanbaru.

Kesederhanaan hidup yang saya lalui dari masa kecil dengan pengasuhan kakek, menempa saya menjadi pribadi yang kuat dan sederhana hingga sekarang. Nenek yang harus berjualan menu sarapan pagi dan jajanan pasar yang dititipkan di berbagai sekolah, mengetuk pintu hati saya untuk menolong setiap harinya. Keluarga kakek dan nenek memang penuh dengan kehangatan. Kami menjalani kehidupan dengan seadanya. Tetapi, itulah yang mengajarkan kami bahwa hidup memang tidak semudah apa yang terlihat di permukaannya saja. Setiap hari, kami semua dibangunkan oleh suara kokok ayam di sepagi buta. Kakek yang memilih pensiun muda dari pekerjaannya yang seorang polisi mengharuskan nenek harus pintar-pintar mengatur keuangan untuk tetap bisa menyekolahkan kelima anaknya, kecuali ibu saya memang. Karena beliau menikah setelah tamat dari SMA. Kami semua terdidik dari sifat keras tapi tegas seorang kakek. Kami menikmati cerita-cerita masa lalunya yang penuh perjuangan. Mempelajari semua kepintarannya. Alhamdulillah, saya diturunkan keahlian Beliau dalam berbicara, artinya saya memang terdidik untuk mampu berbicara di depan umum.

Hidup terpisah dengan ayah tidak menyurutkan hati kecil saya. Saya dan adik tetap bisa menikmati masa kanak-kanak tanpa perhatian dari ayah yang memang bekerja di luar kota. Tetapi, kami mendapatkan kasih sayang yang berlimpah memang dari seorang kakek yang begitu ramah. Saya memasuki taman kanak-kanak saat umur saya menginjak 5 tahun. Dengan berbekal dari keinginan keras seorang kakek yang ingin melihat semua keturunannya cerdas dan merasakan kenikmatan dari cawan ilmu pengetahuan. Setiap pagi hari dengan setianya, kakek saya mengantar saya ke sekolah dengan vespa tuanya. Dengan bekal dari jajanan yang dibuat oleh nenek dan bunda untuk dijual, saya menuntut ilmu di taman kanak-kanak. Saat itu, saya masuk ke TK Kartika 1-5. Saya sempat mengikuti lomba menggambar tingkat TK dan meraih juara 1 sekota Pekanbaru. Inilah titik balik saya menjadi orang kanak-kanak. Saat itu, wali kelas saya menganjurkan bunda saya untuk memasukkan saya ke SD terbaik di kota saya. Hal ini membuat ibu saya sempat bingung, karena memang kekurangan biaya. Sempat terpikir untuk memasukkan saya ke SD Negeri, tapi kakek tetap berkeras untuk memberikan yang terbaik untuk saya. Akhirnya, setelah mengikuti tes-tes masuk ke SD Kartika 1-9 tersebut, Alhamdulillah saya keterima di kelas terbaik di sekolah tersebut. Sampai kelas 3 SD, saya menjadi juara kelas. Walaupun terkadang harus bersaing dengan teman-teman terbaik saya. Paling tidak saya selalu masuk 3 besar pada waktu itu.

Naik ke kelas 4 SD, ayah yang dipindah tugaskan ke Pematang Reba, mengajak saya dan bunda serta adik saya untuk tinggal bersama. Disini saya masuk ke SD Negeri 026 Rengat Barat. Alhamdulillah, prestasi saya tetap cemerlang. Dengan selalu menjadi juara kelas, saya meluluskan SD dengan nilai terbaik sekabupaten. Hal ini tentu saja membuat kedua orang tua serta kakek nenek saya bangga. Di daerah ini, sebenarnya masih bisa dibilang kota mati hingga sekarang, karena tidak ada pembangunan yang berarti bagi masyarakatnya.

Saya memutuskan untuk kembali ke kota Pekanbaru melanjutkan pendidikan SMP. Karena nenek dan kakek meminta saya untuk menemani mereka. Dengan izin kedua orangtua, saya masuk ke SMP Negeri 5 Pekanbaru. Bisa dikatakan ini adalah sekolah favorit di kota saya. Tidak ada prestasi yang mencolok memang saat saya berada di SMP. Bahkan, saya sempat kesulitan mengikuti beberapa mata pelajaran. Dengan nilai yang tidak begitu membanggakan, saya tetap bisa bersekolah disini. Saya menamatkan SMP saya pada tahun 2007 dengan nilai yang memuaskan.

Adanya kebijakan dari sekolah negeri untuk mengadakan tes masuk sebagai formalitas, saya tidak mampu masuk ke sekolah negeri idaman saya. Saat itulah saya mulai putus asa dengan kemampuan saya. Alhamdulillahnya, bunda saya tetap menyemangati saya untuk bisa bangkit kembali. Saya memutuskan masuk salah satu sekolah swasta yang cukup terkenal di kota saya, yaitu SMA Handayani Pekanbaru. Disini, Alhamdulillah saya mengukir prestasi.

Beberapa kali saya diutus untuk mewakili sekolah dalam berbagai lomba tingkat provinsi. Walaupun tidak begitu penghargaan yang kami raih. Pernah suatu kali, saya dan kedua teman saya diutus sebagai kelompok yang akan mewakili sekolah dalam olimpiadi kimia tingkat provinsi. Saat itu, kami lolos sampai ke semifinal, tetapi saat akan mengikuti tahapan selanjutnya, kami harus didiskualifikasi karena keterlambatan yang memang bukan berasal dari kesalahan kami. Pihak panitia sempat meminta maaf karena kesalahan pemberitahuan yang mereka lakukan. 3 tahun saya berada di sekolah ini. Pada saat tahun kedua, saya terpilih menjadi ketua MPK. Dengan berkerjasama dengan OSIS untuk memajukan sekolah. Alhamdulillah, nilai saya selama 3 tahun itu memuaskan. Beberapa kali meraih juara umum, membuat kakek saya menangis terharu. Beliau pahlawan saya yang memang saya hormati sampai sekarang.

Titik nadir saya tiba saat kakek tercinta meninggal di usia 70 tahun. Saya yang memang begitu dekat dengan Beliau sempat frustasi dengan kepergian Beliau. Apalagi beberapa keinginan Beliau yang belum sempat saya penuhi. Keinginan Beliau untuk melihat saya menjadi seorang dokter yang memang tidak bakal terpenuhi hingga nanti. Tapi, saya tetap mencintai ilmu kesehatan. Dengan membaca, saya harap kecintaan saya tidak akan memudar.

Tepat di pertengahan tahun 2010 saya menamatkan sekolah saya. Sempat bingung karena beberapa kali tes masuk perguruan tinggi yang gagal, saya mencoba mengikuti ujian mandiri di Universitas Andalas. Hasilnya, saya lolos di Fakultas Sastra Inggris. Tetapi, karena beberapa alasan, bunda saya melarang saya mengambil kesempatan itu. Akhirnya, saya mencari lagi kampus yang memang masih membuka pendaftaran. Sempat juga mendapat pemberitahuan bahwa keterima di STT Telkom Purwokerto, tetapi memang bukan niatnya disana, saya membatalkannya.

Dan akhirnya, saya mendapat masukan dari salah satu saudara saya untuk melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Dia yang juga alumni dari Universitas Ahmad Dahlan menawarkan untuk masuk ke kampus ini. Alhamdulillah, melalui jalur PMDK, saya keterima di Fakultas Sastra, Budaya, dan Ilmu Komunikasi. Disini saya menuntut ilmu kembali sebagai seorang mahasiswa yang mengenal dunia perkampusan. Mengenal berbagai macam teman dari berbagai daerah yang berbeda. Menambah dunia pergaulan saya yang tidak hanya sebatas dunia kampus saja. Dari sini saya mulai mengikuti berbagai acara diluar kampus.

Saya juga sempat mengajukan proposal program kreativitas mahasiswa pada tahun lalu, dan Alhamdulillah, proposal saya disetujui oleh Dikti untuk didanai. Anda bisa membaca proposal saya di . Dengan berbekal dari pengetahuan saya mengenai Riau, kami memutuskan untuk melakukan penelitian di bidang linguistik tersebut. Dan sekarang, penelitian tersebut sedang berlangsung. Semoga saja, penelitian kami kali ini bisa berlanjut hingga ke Pimnas. Amin.

Sebelumnya, saya sempat bergabung di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Sastra. Tetapi, karena beberapa alasan saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari lembaga tersebut. Sempat menyesal memang karena meninggalkan rutinitas sebagai seorang anggota BEM, tetapi keinginan untuk memperbaiki beberapa permasalahan dengan mata kuliah mengharuskan saya memilih pada saat itu.

Beberapa waktu yang lalu, saya memulai usaha saya di bidang online shop. Saya menjual berbagai macam pakaian wanita dan couple bahkan jersey dari berbagai klub bola kesaayangan kita. Alhamdulillah, saya mendapatkan keuntungan yang membuat saya bangga karena mampu mencari uang sendiri walaupun hasilnya memang tidak seberapa. Sekarang saya masih menjalaninya, tetapi hanya sebagai penerus dari tante. Dalam artian, tante yang memiliki modal dan saya yang mempromosikan kepada pelanggan. Dari beliaulah saya mendapatkan uang sebagai bayaran dari usaha saya.

Saat saya pulang, biasanya saya juga membantu Bunda dan tante menjalankan usaha mereka dalam bidang makanan kecil dan pakaian. Lebaran tahun lalu, saya membantu Bunda menjual bahan dagangannya. Alhamdulillah, hasilnya bisa untuk membeli tiket balik ke kota Yogyakarta. Dan hasil dari tante bisa saya jadikan tabungan saya. Sampai sekarang saya masih mengikuti ajaran almarhum kakek saya untuk selalu berusaha keras apapun yang menghadang kita di depan. Sifat keras inilah yang diwariskan Beliau kepada saya. Saya bisa dikatakan orang yang sangat keras kepala dalam berbagai hal, tetapi tetap menerima saran dan kritik dari semua orang. Saya juga mencontoh sifat sederhana dari almarhum kakek saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: